“Hhhmmm, siapa?” tanya Doni.
“Narti… Den,…ini mau naruh baju bersih,”jawab Narti.
“Ooohhh…masuk, gak di kunci pintunya,”balas Doni.
Mendengar jawaban Doni, Nartipun lalu membuka pintu dan melangkah ke dalam kamar Doni, dan langsung menuju ke ruangan di mana lemari pakaian tersebut berada, lalu Nartipun mulai memasukkan baju-baju tersebut ke dalam lemari, Narti tidak menyadari bahwa seluruh tindak-tanduknya sedang diperhatikan oleh Doni.
Saat itu Doni memang sedang memperhatikan Narti, setelah tadi pagi merasakan tubuh Tuti, pikiran Doni mulai berpikir untuk mencoba menggarap tubuh Narti, tubuh Narti tidak kalah montok dengan Tuti, hanya payudara Narti mempunyai ukuran yang lebih besar dari payudara Tuti seperti yang terlihat oleh Doni, saat Narti membungkuk Doni melihat payudara Narti yang tidak memakai BH bergelantungan di balik dasternya yang longgar.
Melihat kedua bukit kembar Narti yang bergelantungan itu, nafsu birahi Doni bergejolak, rasanya ia ingin sekali meremas-remas payudara tersebut, Doni juga membayangkan kemaluan Narti yang pasti sama sempitnya dengan kemaluan Tuti, perlahan-lahan batang kemaluannya mulai menegang.
Pikirannya mulai berputar mencari akal untuk dapat menikmati tubuh Narti, secercah senyum tersungging di wajah Doni setelah ia menemukan cara untuk dapat menggarap tubuh Narti, dengan cepat Doni melucuti semua pakaian yang melekat di tubuhnya sehingga ia telanjang bulat, setelah itu Doni menutup bagian bawahnya dengan selimut, kemudian iapun memanggil Narti,
“Ti, sini sebentar,”perintah Doni.
“eeehh, iya.. Den,”jawab Narti sambil menghampiri Doni,
Sambil menghampiri Doni yang sedang rebahan di tempat tidurnya, Narti bertanya-tanya dalam hatinya, ada gerangan apa tuan mudanya ini memanggil dia, saat Narti sampai di samping tempat tidur Doni, ia merasa heran karena Doni sedang bertelanjang dada, belum pernah ia melihat Doni bertelanjang dada, Narti melihat dada Doni yang bidang dan ia membayangkan seandainya ia dapat tidur di dada tersebut, wajahnya bersemu merah membayangkan hal tersebut terlebih saat matanya melihat tonjolan di bagian selangkangan Doni yang tertutupi oleh selimut.
“Aadaa..apaa..Den,”tanya Narti terbata-bata,
“Ti, kamu bisa tolongin pijitin badan saya,”Doni balik bertanya
“bisaa..den…tapi … tapi… mungkin pijatan saya gak enaak,”jawab Narti gugup
“Aahhh..gak apa-apa, yang penting rasa pegal di badanku ini hilang,”kata Doni, sambil membalikkan tubuhnya.
“kamu naik kesini, Ti… Biar pijatanmu lebih terasa,”Doni memerintahkan Narti untuk naik keatas tempat tidur.
“iiiyaaaa… Den…,”jawab Narti gugup, karena belum pernah ia sedekat ini dengan tuan mudanya apalagi melihat tubuh tuan mudanya bertelanjang dada.
Dengan duduk bersimpuh di samping tubuh Doni, Narti mulai memijat bahu dan sekitar leher Doni, Doni mulai merasakan enaknya pijatan tangan Narti yang lembut, nafsu birahinya semakin menjadi, batang kemaluannya semakin bertambah keras, pijatan Narti memang tidak terlalu keras tapi Doni merasakan ketegangan di bahu dan lehernya mulai melemas, dari leher dan bahu pijatan Narti mulai ke punggung dan pinggang Doni, Doni semakin keenakan merasakan pijatan-pijatan lembut Narti.
“jangan hanya punggung dan pinggangku saja, pantat dan pahaku juga di pijat, Ti,” kata Doni, yang merasa tangan Narti hanya bergerak di punggung dan pinggangnya saja.
“Eeehh…iyaaaa…Den,”kata Narti yang belum bias menghilangkan rasa gugupnya.
Tangan Narti mulai beralih ke pantat dan paha Doni, agak susah Narti memijat bagian pantat dan paha Doni karena terhalang oleh selimut, Doni yang merasakan pijatan Narti tidak terlalu terasa karena terhalang oleh selimut dan juga karena memang ia rencanakan,
“Ti, kalau susah, buka aja selimutnya,”kata Doni sambil tersenyum, membayangkan wajah Narti saat membuka selimut itu.
“Eehh..baaikk..Den…,”kata Narti sambil membuka selimut yang menutupi bagian bawah Doni,
“iiiiiihhhhh…den Doni, porno….,”teriak Narti sambil kedua tangannya menutupi wajahnya.
Doni yang mendengar pekikan Narti tersenyum, dengan membalikkan tubuhnya sehingga tubuhnya terlentang,
“Kok porno sih,” tanya Doni sambil tersenyum saat melihat Narti yang menutupi wajahnya.
“Iyaa..den Doni, porno…habis telanjang begitu,”jawab Narti sambil tetap menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“kan pantatnya aja yang kelihatan, terus memangnya kamu belum pernah melihat cowok telanjang,”tanya Doni
“Iiihh…den Doni, biar pantat juga tapi tetap telanjang, bukan belum pernah tapi itu juga hanya tubuh suamiku saja yang pernah kulihat,”kata Narti tetap dengan wajahnya yang di tutupi oleh tangannya.
“Memang belum pernah lihat lelaki lain telanjang yach, Ti,”tanya Doni.
“Belum Den…belum berani sumpah,”jawab Narti tetap dengan wajah yang tertutup.
“jadi baru punya suamimu saja yang pernah di lihat, hhmmm… punya suamimu besar tidak, Ti,”Doni bertanya penasaran.
“IIIhhh..den Doni, ada-ada saja pertanyaannya, gak tau ach,”Narti mengelak pertanyaan Doni.
“Besar mana sama punyaku,”Doni kembali mendesak Narti, sambil tangannya meraih tangan Narti lalu di tempelkan di kemaluannya yang sudah tegang.
“Iiiihhhh…den Doni, malu…den…aaachhh…,”Narti terpekik saat tangannya yang di tarik oleh Doni menyentuh batang kemaluan Doni yang sedang tegang-tegangnya,
“iiihhhh…beessaaarr…sekalii…,”
“sekarang besar mana punyaku atau punya bekas suamimu,”tanya Doni setelah tangan Narti memegang batang kemaluannya.
“Punya den Doni..lebih besar…,”sahut Narti malu-malu dengan tetap masih menutup matanya dengan sebelah tangannya.
“Ti, buka matamu…jangan di tutupi terus, biar kamu bisa lihat punyaku ini,”sahut Doni sambil menarik tangan Narti yang satunya lagi yang masih menutupi matanya.
“Aaaachhh… malu…den…malu…,”jawab Narti dengan mata yang terpejam, tapi dengan tangan yang tetap memegangi batang kemaluan Doni dengan erat, seolah takut terlepas.
“gak usah malu, Ti… ini lihat punyaku, jangan hanya di pegangi saja,”lanjut Doni sambil tangan kanannya mulai beraksi merabai payudara Narti dari luar baju dasternya.
“Eeehhh…Den…jangaaan… Den… geelliiii… aaaacchhh… jangaaann…,”lirih Narti yang mulai terpengaruh dengan rabaan tangan Doni,
“geeeliii…den… iiihhhhh…besssaaarr…sekaliiii….punya den Doni…,”pekik Narti saat membuka matanya, sambil merasakan geli saat payudaranya di elus-elus Doni.
“Besar mana sama punya suamimu,” desak Doni penasaran.
“hhhmmmm…. Geeelliii…den… sudah..den,… gelliiii… ooohhhhh.. punya Den Doni lebih besar… den… sudaahhh… geellliiii…,”rintih Narti kegelian,
Tubuh Narti menggelinjang menahan geli dan rasa enak menikmati rabaan-rabaan tangan Doni, dalam hatinya berperang antara menikmati rabaan Doni atau menghindari dari serangan Doni,
“Ti, kamu mau tolongin aku lagi,”tanya Doni
“Appaaa.. Den… apalagi yang bisa kubanttuuu… sudaahhh…den…geliii,”Narti bertanya lirih,
Doni tidak menjawab pertanyaan Narti, tapi dengan penuh nafsu Doni memagut bibir Narti yang setengah terbuka akibat menahan gairah birahinya, lidahnya menjulur masuk ke dalam rongga mulut Narti dan menari-nari di dalam mulut Narti, Narti sendiri kaget dengan sergapan Doni tersebut,
“Hhhmmmppppp…..hhhmmmpppp…..,”gumam Narti,
Setelah rasa kagetnya hilang, Narti mulai membalas ciuman Doni dengan penuh nafsu, lidahnya menyambut kehadiran lidah Doni di dalam mulutnya, asyik berciuman tidak membuat Doni lupa dengan tugas tangannya, tangan kanannya masih tetap dengan aksinya di payudara Narti, di tambah dengan aksi tangan kirinya yang mengelus-elus punggung Narti, sementara tangan Narti yang sedang memegangi batang kemaluan Donipun mulai beraksi, tangannya mulai meremas-remas batang kemaluan tersebut dan mengocok-ngocoknya.
Seiring dengan aksi mereka yang saling serang di daerah sensitif lawannya, ciuman merekapun semakin bertambah seru, keduanya semakin di mabuk oleh gairah birahi mereka yang semakin meningkat, sambil tetap tidak melepaskan pagutan di bibir Narti, Doni berusaha untuk membuka daster Narti, yang di bantu oleh Narti dengan mengangkat pantatnya sehingga bagian bawah dasternya terlepas dari himpitan pantatnya, perlahan-lahan Doni mengangkat daster tersebut ke atas, saat mencapai bagian leher Narti dengan terpaksa Doni melepaskan pagutannya di bibir Narti.
Doni melihat payudara Narti yang masih mengkal bergayutan dengan indahnya seiring nafas Narti yang memburu, kedua putingnya yang agak kehitaman menghiasi payudara tersebut, sungguh kontras warna kedua putingnya itu dengan warna payudara Narti yang putih, dengan rakus di terkamnya payudara Narti tersebut, mulutnya dengan lahap menghisap kedua payudara tersebut silih berganti, sementara kedua tangannya asyik meremas-remas kedua bukit kembar tersebut.
“Ooohhhh…Den… enaaak…gelliiii… Den…. Aaaahhhh… den…sudaaahh… den… jangan.. nanti keterusan…deeennn….ooohhh… den…,”Narti merintih-rintih keenakan.
Mulutnya berkata jangan dan menyuruh Doni untuk berhenti, tapi tangannya tidak berusaha untuk menghentikan kegiatan Doni, tangan Narti semakin asyik bermain di batang kemaluan Doni.
Dengan perlahan-lahan Doni mendorong tubuh Narti, sambil tetap mulut dan kedua tangannya beraksi di payudara Narti, tangan kanan Doni mulai beralih kearah selangkangan Narti setelah tubuh Narti terlentang di atas tempat tidurnya, kemaluan Narti di serangnya dari luar, Doni merasakan CD Narti sudah lembab, dengan lembut kemaluan dan kelentit Narti mulai ia elus-elus dari balik CDnya.
Tubuh Narti menggelinjang mendapatkan serangan tangan Doni di kelentit dan bibir kemaluannya, walaupun masih terhalang oleh CDnya, tapi Narti dapat merasakan elusan-elusan tangan Doni, vaginanya semakin banyak mengeluarkan cairan pelumasnya, CDnya menjadi semakin basah, gesekan-gesekan tangan Doni semakin liar, Narti merasakan nikmat luar biasa, belum pernah bekas suaminya dulu melakukan hal seperti ini, sama seperti Tuti, suami mereka hanya tahu menuntaskan nafsu birahi mereka tanpa memperdulikan birahi istrinya.
“Den… ooohhh.. den.. suddaahh.. den…nnaanttiii… keeterusan…. Den… aaaahhh enaaaakkk… ooohhh… Den…. Jangan ssudah…. Ooohhhh.. Den…,”rintihan Narti semakin menjadi, mulutnya berkata jangan tapi memeknya berkata teruskan.
Dengan tersenyum Doni menghentikan aksinya menuruti permintaan Narti yang memintanya untuk berhenti, Narti kaget karena Doni menghentikan permainannya, tapi tangannya masih tetap meremas-remas batang kemaluan Doni.
“Yah, sudah, kalau takut keterusan sich,”kata Doni sambil tersenyum, karena ia tahu Narti sebetulnya menginginkan memeknya di sodok kontolnya, apalagi tangan Narti tidak berhenti meremas-remas kontolnya.
“Eeeehhh…. Iiiiihhhh.. Den Doni… marahh… ini..ini…,” lirih Narti antara malu, kaget dan keinginan menikmati sodokan kontolnya Doni.
“Jadi, gimana kita sudahi saja,” Doni bertanya dengan tersenyum.
“iiiiihhhh….den Doni… ,”lirih Narti tersipu malu.
“iya kita sudahi saja permainan ini atau di teruskan,”desak Doni
“aaaachhh… den Doni…jahaat.. Narti..malu..den… ,”lirih Narti.
“hhmmmm… jadi terus,” desak Doni kembali,
Narti hanya bisa mengangguk malu-malu, kemudian Doni menarik CDnya Narti sehingga kain penghalang satu-satunya milik Narti itu terlepas dari tubuh Narti, Doni melihat lembah hitam milik Narti itu terawat dengan rapih, rupanya Narti rajin merapihkan semak-semak hitamnya itu dengan memangkasnya, sehingga semak-semak hitam itu tidak tumbuh liar, bibir kemaluannya yang agak hitam sedikit kontras dengan bagian dalamnya yang kemerahan.
Bonus:




“Narti… Den,…ini mau naruh baju bersih,”jawab Narti.
“Ooohhh…masuk, gak di kunci pintunya,”balas Doni.
Mendengar jawaban Doni, Nartipun lalu membuka pintu dan melangkah ke dalam kamar Doni, dan langsung menuju ke ruangan di mana lemari pakaian tersebut berada, lalu Nartipun mulai memasukkan baju-baju tersebut ke dalam lemari, Narti tidak menyadari bahwa seluruh tindak-tanduknya sedang diperhatikan oleh Doni.
Saat itu Doni memang sedang memperhatikan Narti, setelah tadi pagi merasakan tubuh Tuti, pikiran Doni mulai berpikir untuk mencoba menggarap tubuh Narti, tubuh Narti tidak kalah montok dengan Tuti, hanya payudara Narti mempunyai ukuran yang lebih besar dari payudara Tuti seperti yang terlihat oleh Doni, saat Narti membungkuk Doni melihat payudara Narti yang tidak memakai BH bergelantungan di balik dasternya yang longgar.
Melihat kedua bukit kembar Narti yang bergelantungan itu, nafsu birahi Doni bergejolak, rasanya ia ingin sekali meremas-remas payudara tersebut, Doni juga membayangkan kemaluan Narti yang pasti sama sempitnya dengan kemaluan Tuti, perlahan-lahan batang kemaluannya mulai menegang.
Pikirannya mulai berputar mencari akal untuk dapat menikmati tubuh Narti, secercah senyum tersungging di wajah Doni setelah ia menemukan cara untuk dapat menggarap tubuh Narti, dengan cepat Doni melucuti semua pakaian yang melekat di tubuhnya sehingga ia telanjang bulat, setelah itu Doni menutup bagian bawahnya dengan selimut, kemudian iapun memanggil Narti,
“Ti, sini sebentar,”perintah Doni.
“eeehh, iya.. Den,”jawab Narti sambil menghampiri Doni,
Sambil menghampiri Doni yang sedang rebahan di tempat tidurnya, Narti bertanya-tanya dalam hatinya, ada gerangan apa tuan mudanya ini memanggil dia, saat Narti sampai di samping tempat tidur Doni, ia merasa heran karena Doni sedang bertelanjang dada, belum pernah ia melihat Doni bertelanjang dada, Narti melihat dada Doni yang bidang dan ia membayangkan seandainya ia dapat tidur di dada tersebut, wajahnya bersemu merah membayangkan hal tersebut terlebih saat matanya melihat tonjolan di bagian selangkangan Doni yang tertutupi oleh selimut.
“Aadaa..apaa..Den,”tanya Narti terbata-bata,
“Ti, kamu bisa tolongin pijitin badan saya,”Doni balik bertanya
“bisaa..den…tapi … tapi… mungkin pijatan saya gak enaak,”jawab Narti gugup
“Aahhh..gak apa-apa, yang penting rasa pegal di badanku ini hilang,”kata Doni, sambil membalikkan tubuhnya.
“kamu naik kesini, Ti… Biar pijatanmu lebih terasa,”Doni memerintahkan Narti untuk naik keatas tempat tidur.
“iiiyaaaa… Den…,”jawab Narti gugup, karena belum pernah ia sedekat ini dengan tuan mudanya apalagi melihat tubuh tuan mudanya bertelanjang dada.
Dengan duduk bersimpuh di samping tubuh Doni, Narti mulai memijat bahu dan sekitar leher Doni, Doni mulai merasakan enaknya pijatan tangan Narti yang lembut, nafsu birahinya semakin menjadi, batang kemaluannya semakin bertambah keras, pijatan Narti memang tidak terlalu keras tapi Doni merasakan ketegangan di bahu dan lehernya mulai melemas, dari leher dan bahu pijatan Narti mulai ke punggung dan pinggang Doni, Doni semakin keenakan merasakan pijatan-pijatan lembut Narti.
“jangan hanya punggung dan pinggangku saja, pantat dan pahaku juga di pijat, Ti,” kata Doni, yang merasa tangan Narti hanya bergerak di punggung dan pinggangnya saja.
“Eeehh…iyaaaa…Den,”kata Narti yang belum bias menghilangkan rasa gugupnya.
Tangan Narti mulai beralih ke pantat dan paha Doni, agak susah Narti memijat bagian pantat dan paha Doni karena terhalang oleh selimut, Doni yang merasakan pijatan Narti tidak terlalu terasa karena terhalang oleh selimut dan juga karena memang ia rencanakan,
“Ti, kalau susah, buka aja selimutnya,”kata Doni sambil tersenyum, membayangkan wajah Narti saat membuka selimut itu.
“Eehh..baaikk..Den…,”kata Narti sambil membuka selimut yang menutupi bagian bawah Doni,
“iiiiiihhhhh…den Doni, porno….,”teriak Narti sambil kedua tangannya menutupi wajahnya.
Doni yang mendengar pekikan Narti tersenyum, dengan membalikkan tubuhnya sehingga tubuhnya terlentang,
“Kok porno sih,” tanya Doni sambil tersenyum saat melihat Narti yang menutupi wajahnya.
“Iyaa..den Doni, porno…habis telanjang begitu,”jawab Narti sambil tetap menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“kan pantatnya aja yang kelihatan, terus memangnya kamu belum pernah melihat cowok telanjang,”tanya Doni
“Iiihh…den Doni, biar pantat juga tapi tetap telanjang, bukan belum pernah tapi itu juga hanya tubuh suamiku saja yang pernah kulihat,”kata Narti tetap dengan wajahnya yang di tutupi oleh tangannya.
“Memang belum pernah lihat lelaki lain telanjang yach, Ti,”tanya Doni.
“Belum Den…belum berani sumpah,”jawab Narti tetap dengan wajah yang tertutup.
“jadi baru punya suamimu saja yang pernah di lihat, hhmmm… punya suamimu besar tidak, Ti,”Doni bertanya penasaran.
“IIIhhh..den Doni, ada-ada saja pertanyaannya, gak tau ach,”Narti mengelak pertanyaan Doni.
“Besar mana sama punyaku,”Doni kembali mendesak Narti, sambil tangannya meraih tangan Narti lalu di tempelkan di kemaluannya yang sudah tegang.
“Iiiihhhh…den Doni, malu…den…aaachhh…,”Narti terpekik saat tangannya yang di tarik oleh Doni menyentuh batang kemaluan Doni yang sedang tegang-tegangnya,
“iiihhhh…beessaaarr…sekalii…,”
“sekarang besar mana punyaku atau punya bekas suamimu,”tanya Doni setelah tangan Narti memegang batang kemaluannya.
“Punya den Doni..lebih besar…,”sahut Narti malu-malu dengan tetap masih menutup matanya dengan sebelah tangannya.
“Ti, buka matamu…jangan di tutupi terus, biar kamu bisa lihat punyaku ini,”sahut Doni sambil menarik tangan Narti yang satunya lagi yang masih menutupi matanya.
“Aaaachhh… malu…den…malu…,”jawab Narti dengan mata yang terpejam, tapi dengan tangan yang tetap memegangi batang kemaluan Doni dengan erat, seolah takut terlepas.
“gak usah malu, Ti… ini lihat punyaku, jangan hanya di pegangi saja,”lanjut Doni sambil tangan kanannya mulai beraksi merabai payudara Narti dari luar baju dasternya.
“Eeehhh…Den…jangaaan… Den… geelliiii… aaaacchhh… jangaaann…,”lirih Narti yang mulai terpengaruh dengan rabaan tangan Doni,
“geeeliii…den… iiihhhhh…besssaaarr…sekaliiii….punya den Doni…,”pekik Narti saat membuka matanya, sambil merasakan geli saat payudaranya di elus-elus Doni.
“Besar mana sama punya suamimu,” desak Doni penasaran.
“hhhmmmm…. Geeelliii…den… sudah..den,… gelliiii… ooohhhhh.. punya Den Doni lebih besar… den… sudaahhh… geellliiii…,”rintih Narti kegelian,
Tubuh Narti menggelinjang menahan geli dan rasa enak menikmati rabaan-rabaan tangan Doni, dalam hatinya berperang antara menikmati rabaan Doni atau menghindari dari serangan Doni,
“Ti, kamu mau tolongin aku lagi,”tanya Doni
“Appaaa.. Den… apalagi yang bisa kubanttuuu… sudaahhh…den…geliii,”Narti bertanya lirih,
Doni tidak menjawab pertanyaan Narti, tapi dengan penuh nafsu Doni memagut bibir Narti yang setengah terbuka akibat menahan gairah birahinya, lidahnya menjulur masuk ke dalam rongga mulut Narti dan menari-nari di dalam mulut Narti, Narti sendiri kaget dengan sergapan Doni tersebut,
“Hhhmmmppppp…..hhhmmmpppp…..,”gumam Narti,
Setelah rasa kagetnya hilang, Narti mulai membalas ciuman Doni dengan penuh nafsu, lidahnya menyambut kehadiran lidah Doni di dalam mulutnya, asyik berciuman tidak membuat Doni lupa dengan tugas tangannya, tangan kanannya masih tetap dengan aksinya di payudara Narti, di tambah dengan aksi tangan kirinya yang mengelus-elus punggung Narti, sementara tangan Narti yang sedang memegangi batang kemaluan Donipun mulai beraksi, tangannya mulai meremas-remas batang kemaluan tersebut dan mengocok-ngocoknya.
Seiring dengan aksi mereka yang saling serang di daerah sensitif lawannya, ciuman merekapun semakin bertambah seru, keduanya semakin di mabuk oleh gairah birahi mereka yang semakin meningkat, sambil tetap tidak melepaskan pagutan di bibir Narti, Doni berusaha untuk membuka daster Narti, yang di bantu oleh Narti dengan mengangkat pantatnya sehingga bagian bawah dasternya terlepas dari himpitan pantatnya, perlahan-lahan Doni mengangkat daster tersebut ke atas, saat mencapai bagian leher Narti dengan terpaksa Doni melepaskan pagutannya di bibir Narti.
Doni melihat payudara Narti yang masih mengkal bergayutan dengan indahnya seiring nafas Narti yang memburu, kedua putingnya yang agak kehitaman menghiasi payudara tersebut, sungguh kontras warna kedua putingnya itu dengan warna payudara Narti yang putih, dengan rakus di terkamnya payudara Narti tersebut, mulutnya dengan lahap menghisap kedua payudara tersebut silih berganti, sementara kedua tangannya asyik meremas-remas kedua bukit kembar tersebut.
“Ooohhhh…Den… enaaak…gelliiii… Den…. Aaaahhhh… den…sudaaahh… den… jangan.. nanti keterusan…deeennn….ooohhh… den…,”Narti merintih-rintih keenakan.
Mulutnya berkata jangan dan menyuruh Doni untuk berhenti, tapi tangannya tidak berusaha untuk menghentikan kegiatan Doni, tangan Narti semakin asyik bermain di batang kemaluan Doni.
Dengan perlahan-lahan Doni mendorong tubuh Narti, sambil tetap mulut dan kedua tangannya beraksi di payudara Narti, tangan kanan Doni mulai beralih kearah selangkangan Narti setelah tubuh Narti terlentang di atas tempat tidurnya, kemaluan Narti di serangnya dari luar, Doni merasakan CD Narti sudah lembab, dengan lembut kemaluan dan kelentit Narti mulai ia elus-elus dari balik CDnya.
Tubuh Narti menggelinjang mendapatkan serangan tangan Doni di kelentit dan bibir kemaluannya, walaupun masih terhalang oleh CDnya, tapi Narti dapat merasakan elusan-elusan tangan Doni, vaginanya semakin banyak mengeluarkan cairan pelumasnya, CDnya menjadi semakin basah, gesekan-gesekan tangan Doni semakin liar, Narti merasakan nikmat luar biasa, belum pernah bekas suaminya dulu melakukan hal seperti ini, sama seperti Tuti, suami mereka hanya tahu menuntaskan nafsu birahi mereka tanpa memperdulikan birahi istrinya.
“Den… ooohhh.. den.. suddaahh.. den…nnaanttiii… keeterusan…. Den… aaaahhh enaaaakkk… ooohhh… Den…. Jangan ssudah…. Ooohhhh.. Den…,”rintihan Narti semakin menjadi, mulutnya berkata jangan tapi memeknya berkata teruskan.
Dengan tersenyum Doni menghentikan aksinya menuruti permintaan Narti yang memintanya untuk berhenti, Narti kaget karena Doni menghentikan permainannya, tapi tangannya masih tetap meremas-remas batang kemaluan Doni.
“Yah, sudah, kalau takut keterusan sich,”kata Doni sambil tersenyum, karena ia tahu Narti sebetulnya menginginkan memeknya di sodok kontolnya, apalagi tangan Narti tidak berhenti meremas-remas kontolnya.
“Eeeehhh…. Iiiiihhhh.. Den Doni… marahh… ini..ini…,” lirih Narti antara malu, kaget dan keinginan menikmati sodokan kontolnya Doni.
“Jadi, gimana kita sudahi saja,” Doni bertanya dengan tersenyum.
“iiiiihhhh….den Doni… ,”lirih Narti tersipu malu.
“iya kita sudahi saja permainan ini atau di teruskan,”desak Doni
“aaaachhh… den Doni…jahaat.. Narti..malu..den… ,”lirih Narti.
“hhmmmm… jadi terus,” desak Doni kembali,
Narti hanya bisa mengangguk malu-malu, kemudian Doni menarik CDnya Narti sehingga kain penghalang satu-satunya milik Narti itu terlepas dari tubuh Narti, Doni melihat lembah hitam milik Narti itu terawat dengan rapih, rupanya Narti rajin merapihkan semak-semak hitamnya itu dengan memangkasnya, sehingga semak-semak hitam itu tidak tumbuh liar, bibir kemaluannya yang agak hitam sedikit kontras dengan bagian dalamnya yang kemerahan.
Bonus:




Narti hanya bisa pasrah saja, ia tidak dapat menghalangi lagi keinginan Doni untuk menyetubuhinya karena ia sendiri sudah larut dalam gairah dan gejolak birahinya sendiri, nafsu birahinya sudah mengalahkan akal sehatnya, keinginannya untuk segera merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan Doni di memeknya mengalahkan rasa malu dan rasa takutnya.
Dengan perlahan-lahan Doni mulai mengarahkan kepala kontolnya ke vagina Narti, di elus-eluskannya kepala kontolnya tersebut di bibir vagina dan kelentit Narti, sehingga membuat Narti menggelinjang kegelian,
“Den…aacchh… Den… jangan di mainin begittuuuu… oooohhh… Den… masukin kontolmu den…. Cepat …den…aaaachhh… den Doni…naaakkaaallll…,”pekik Narti.
Doni tersenyum dengan permintaan Narti tersebut, akhirnya keluar juga perkataan tersebut dari mulut Narti,
Dan, Ssssleeeeepppp…..
Kepala kontolnya ia selipkan di lubang vagina Narti, yang di iringi oleh erangan Narti yang merasakan lesakan kepala batang kemaluan Doni di vaginanya,
“eeeggghhhh… kontolmu..den… besar sekali.. pelan-pelan den….,”erang Narti.
“Hhhmmmm….,”gumam Doni
Kemudian, Bllleeeesssss…..
Kepala kemaluan Doni mulai menyelusup masuk kedalam rongga kenikmatan Narti, yang di rasakan oleh Narti adalah memeknya jadi penuh sesak oleh kemaluan Doni,
“Peeelllaaaan… Den,… peelllaaaaannn… kontolmu besar deeennn… uuuggghhhh… penuh memekku di buatnya…. ,”Narti mengerang kembali.
Doni mendiamkan sejenak kepala kontolnya yang sudah masuk dalam lubang senggama Narti, untuk memberi waktu agar lubang senggama Narti menjadi terbiasa dengan besar kemaluannya, dan….
Bbllleeeessssss…… bleeesssss….
Doni mulai mendorong kontolnya kembali dengan perlahan-lahan, batang kemaluannya mulai terbenam setengahnya di lubang senggama Narti,
“Aaaaggghhhh…. Den… kontolmu…beesssaaaarrr…. Oooooggghhh periiih.. sakit memekku…den… ccaaabuutt… den…. Saakiittt….,”rintih Narti yang merasakan kesakitan akibat lesakan batang kemaluan Doni yang besar.
“Hhhmmmpppp… bentarr… ttahan…Ti, nanti juga gak sakit,”sahut Doni tanpa mencabut kontolnya,
Dan, Bllleeeeessssss………
Dengan sekali hentak Doni menekan kontolnya dalam-dalam di lubang senggama Narti, terlihat batang kemaluan Doni terbenam seluruhnya di lubang vagina Narti, Doni merasakan nikmat yang sangat merasakan jepitan memek Narti yang sempit itu, Doni juga merasakan dinding vagina Narti berdenyut-denyut, Narti sendiri merasa kesakitan dengan hentakan Doni tersebut, tapi ia tidak dapat menghindar karena dengan posisi tubuhnya yang tertindih tubuh Doni, dan tubuhnya yang di peluk dengan erat oleh Doni terutama saat Doni menghujamkan kontoknya masuk dalam-dalam di lubang vaginanya,
“Ouugghhh… den… sakiiittt… den… ssaaaakiitt… cabut… kontolmu… den…,”Narti merintih, air matanya menitik menahan sakit.
“Tenang… nanti juga gak sakit lagi… percaya samaku..nanti malah kamu ketagihan sama kontolku ini,” Doni berkata sambil tersenyum.
Doni mulai menggerakkan pantatnya naik-turun dengan perlahan-lahan, kontolnya pun bergerak dengan perlahan-lahan di lubang senggama Narti yang masih dengan eratnya menjepit batang kemaluannya, Doni merasakan memek Narti lebih sempit daripada memeknya Tuti ataupun mamihnya,
“eeeghhhh… saakiiittt…. Den… pelaaaannn… den… pelaaann…,” Narti merintih merasakan sakit.
“Pelaaannn… den… pelaaaann…. Jangaaaannn… terlaalluuu… dalaammm.. den… aaaaghhh… saakiittt….,”kembali Narti merintih kesakitan saat Doni mendorong dalam-dalam kontolnya itu.
“Suddaaaahhh… den…. Aaagghhh….,”kembali Narti mengerang.
Donipun menghentikan sodokan-sodokan kontolnya di memek Narti, dan mulai asyik menciumi mulut Narti yang sedang mengerang dan merintih kesakitan itu, Nartipun gelagapan dengan serbuan Doni, sementara ia sedang menahan sakit di memeknya yang sedang di terobos kontolnya Doni yang besar, Donipun merubah maju-mundurnya menjadi gerakan memutar, sambil mulutnya asyik memagut bibir Narti, gerakan Doni ini tidak terlalu membuat sakit memek Narti, malahan memberikan sensasi nikmat untuk Narti, rintihan kesakitan Narti mulai berganti dengan desahan keenakan.
“ooouughhh…den… terus…den… terus…putar…eenaakkk…tidak sakiit..lagii oooogghhh den…aaahhh… enak..terusss..putar terus..,”desah Narti yang sudah tidak merasakan sakit di vaginanya.
Lama-lama gerakan berputar Doni tersebut mulai diselingi dengan tarikan dan tekanan, sambil memutar pantatnya Doni mulai menarik pantatnya keatas perlahan dan saat menekan pantatnya Donipun tidak menghentikan putaran pantatnya, Nartipun tidak menjerit kesakitan saat Doni melakukan hal tersebut, tapi malah mengerang keenakan.
“Aaaachhhh… den.. enakk… kontolmu enaakk… den..besar…memekku penuh dibuatnya… den… terus den…sodok kontolmu itu…,”erang Narti yang keenakan dengan aksi Doni.
“hhhmmmppp… ssshhh… memekmu juga enak, semppittt… ooohhh,”Donipun mengerang keenakan.
Saat sedang asyik-asyiknya Doni yang mulai menggenjot kontolnya itu di memek Narti, tubuh orang yang sedang menyaksikan pertunjukkan itupun mulai menghampiri tempat tidur Doni, rupanya Doni ataupun Narti lupa bahwa pintu mereka tidak tertutup, lalu orang tersebut mulai mengarahkan tangannya untuk mengelus biji peler Doni, yang bergoyang seiring dengan genjotan Doni,
“Eeehhhh….,”Doni kaget saat merasakan biji pelernya ada yang mengelus-ngelus.
“Hhmmmm… anak mamih mulai bermain di belakang mamih dan tidak mengajak mamihnya ini,”tegur Dewi.
Ternyata orang tersebut adalah Dewi, yang rupanya sudah tidak dapat menahan nafsu birahinya untuk ikutan bergabung dengan Doni dan Narti.
“Uuughhh…mamihhh…bikin kaget aja….,”kata Doni
Nartipun ikut kaget saat melihat kehadiran nyonya majikannya,
“eeehhh…bu… maaf…den… Dooniiii… aaaachh… yaaanggg….,”kata Narti setengah menjerit, perkataannya terputus saat Doni menekan kontolnya dalam-dalam.
“hhhmmmm… kamu mulai nakal juga, Ti…. Tapi gak apa-apa asalkan aku bisa ikutan gabung dengan kalian,”kata Dewi dengan genit sambil mulai menciumi anaknya yang sedang telungkup menggenjot Narti.
“Aaahh… ayo mih, kita muncrat bareng-bareng…aaaaggghhh…memekmu Ti, sempit sekali…oooogghhh…,”jawab Doni sambil asyik merasakan jepitan memek Narti.
“Iyaaa… Bu… oooghhh… den…aaaahhh…terusss…tekan kontolmu….tekaaan den yang daaaalllaammm…oooghh..,”Narti meng-iyakan perkataan Doni sambil tetap merasakan enaknya sodokan-sodokan batang kemaluan Doni di vaginanya.
Tanpa menunggu lama lagi, Dewi mulai beranjak kebelakang anaknya, iapun menelungkup di atas ranjang, tujuannya ialah biji peler anaknya yang bergoyang-goyang, sambil berpegangan di pantat Doni yang bergerak naik turun, Dewipun mulai sibuk menjilati biji peler Doni, lidahnya menyapu batang kemaluan Doni saat muncul keluar dari lubang vagina Narti, dan lidahnya menyapu biji peler Doni saat batang kemaluan Doni bersembunyi di lubang kemaluan Narti, aksi Dewi tersebut menambah sensasi luar biasa buat Doni.
“Ooughhh.. mih, enaaakk… mih… terus… jilat biji pelerku…mih… jilat kontolku… aaahhh mamih hebat…eenaakkk…,”erangan Doni terdengar.
Bukan hanya Doni yang merasakan enak akibat serangan Dewi tersebut, tapi Narti juga merasakan dampaknya karena sodokan-sodokan ****** Doni semakin dalam masuknya di lubang senggamanya,
“oooooghhh…den…eenaak…teruss…entot…memekku…den… ooogghhh…tekan terus…tekan kontolmu yang besar itu…den.. aahhhh..enak…,”Nartipun melenguh keenakan.
Dewipun semakin nakal dengan jilatannya, bukan hanya batang kemaluan Doni saja yang menjadi sasaran, tapi bibir vagina Nartipun menjadi sasaran jilatannya, saat Doni mulai meneroboskan kontolnya di vagina Narti, Dewipun menjilati pinggiran vagina Narti yang berdekatan dengan lubang anusnya, sementara dengan membasahi telunjuknya dengan air ludah, pinggiran lubang anus Nartipun mulai di elus-elusnya,
“OOOhhhhhhh…Bu, geeliiiii….aaaaahhh…eenaaakk….oooooohhhh…,”kembali Narti melenguh keenakan.
Nartipun mulai melingkarkan kakinya di pinggang Doni, sehingga membuat lubang anusnya lebih terbuka, bukan hanya itu lesakan kontolnya Donipun semakin dalam menerobos di lubang vaginanya, Dewi yang melihat posisi Narti itu mulai meneroboskan jari telunjuknya ke dalam lubang anus Narti dengan perlahan-lahan,
“Aaaaagghhhh…. Bu… saaakitt… jangan…bu… jangan…anusku….ooooogghh,” pekik Narti yang merasakan telunjuk Narti menerobos masuk lubang anusnya.
“Hhehehe…tenang, nanti juga kamu akan keenakan….ssslrrrppp…,”jawab Dewi sambil asyik dengan jilatan-jilatanya.
“Mih,,, tambah sempiittt.. memeknya… aaaahhhh…. Tambah,,enaak…. Terus mih.. tekan…,”Doni mengerang keenakan yang merasakan vagina Narti bertambah sempit akibat lesakan jari telunjuk mamihnya di lubang anus Narti.
Setelah masuk semua jari telunjuknya di dalam lubang anus Narti, Dewi mulai memutar-mutar jari telunjuknya sambil di maju mundurkan, perlahan tapi pasti jari telunjuk Dewi mulai leluasa keluar masuk di lubang anus Narti, Narti sendiri mulai merasakan rasa sakit yang tadi di alaminya mulai berganti dengan rasa nikmat yang hebat….
“OOoggghh, bu… betull..bu, bbetul… enaaakk… nikmaat…,”Narti mengerang keenakan merasakan sensasi yang luar biasa yang ia rasakan di kedua lubangnya.
Doni juga merasakan bertambahnya kenikmatan yang ia rasakan, ia merasakan jari mamihnya yang sedang keluar masuk di lubang anus Narti seolah-olah menggesek-gesek kontolnya, seolah-olah di antara kedua lubang itu tidak ada dinding pembatasnya.
“Oooghhh…. Mih.. terus kocok anusnya…mih… enak.. nikmat…,”Donipun mengerang keenakan.
Kaki Narti semakin kuat menjepit pinggang Doni, saat Doni melesakkan kontolnya Narti menekan pinggang Doni ke bawah sehingga kontolnya Doni melesak sedalam-dalamnya di lubang senggamanya, pelukan tangannya semakin erat memeluk Doni, nafasnya semakin memburu, rupanya Narti hampir mendekati ujung kenikmatannya, puncak kenikmatannya telah di ambang pintu, klimaks dari persetubuhannya dengan Doni akan ia rengkuh, tiba-tiba kakinya menekan kuat-kuat pinggang Doni dan pelukannya bertambah kencang, bibirnya mengatup di bahu Doni, nafasnya tersengal-sengal, tubuhnya mengejang….
Ssssssrrrrrr…. Sssssrrrrrrr… sssssrrrrrrr… sssrrrrrrr…..
Dengan sangat kuat vaginanya menyemburkan lahar kenikmatannya, Doni merasakan kontolnya menjadi hangat dengan semburan tersebut, Doni juga merasakan dinding vagina Narti berkedutan dengan kuat, seolah meremas-remas batang kontolnya.
“Aaaaaccchhhh… aku keluar….Den… aku keluar… enaaak… den… enak… kontolmu betul..betull.. enaaakk….aaaaccchhhh…,”Narti melenguh sejadi-jadinya merasakan letupan-letupan puncak birahinya.
Dewi yang tahu Narti sedang meraih puncak kenikmatannya menambahi dengan menekan-nekan dinding pembatas lubang anus dengan lubang vaginanya, sehingga menambah sensasi nikmat yang di alami oleh Narti, kejutan-kejutan dinding vagina Narti semakin menguat dengan gerakan Dewi tersebut, Doni yang merasakan memek Narti sedang berkedut-kedut itu menjadi meram-melek menikmati remasan-remasan memek Narti di batang kemaluannya.
Seiring dengan meredanya ledakan-ledakan birahi Narti, kaki Narti yang menjepit pinggang Doni mulai terlepas dan kedua kakinya melemas turun di samping paha Doni, pelukannya mengendur, merasakan ini semua Doni mulai memagut bibir Narti dengan lembut, pantatnya mulai bergerak dengan perlahan-lahan untuk memberikan tambahan kenikmatan yang baru saja Narti rengkuh.
Bonus: Sorry ga nyambung ama ceritanya












Dengan perlahan-lahan Doni mulai mengarahkan kepala kontolnya ke vagina Narti, di elus-eluskannya kepala kontolnya tersebut di bibir vagina dan kelentit Narti, sehingga membuat Narti menggelinjang kegelian,
“Den…aacchh… Den… jangan di mainin begittuuuu… oooohhh… Den… masukin kontolmu den…. Cepat …den…aaaachhh… den Doni…naaakkaaallll…,”pekik Narti.
Doni tersenyum dengan permintaan Narti tersebut, akhirnya keluar juga perkataan tersebut dari mulut Narti,
Dan, Ssssleeeeepppp…..
Kepala kontolnya ia selipkan di lubang vagina Narti, yang di iringi oleh erangan Narti yang merasakan lesakan kepala batang kemaluan Doni di vaginanya,
“eeeggghhhh… kontolmu..den… besar sekali.. pelan-pelan den….,”erang Narti.
“Hhhmmmm….,”gumam Doni
Kemudian, Bllleeeesssss…..
Kepala kemaluan Doni mulai menyelusup masuk kedalam rongga kenikmatan Narti, yang di rasakan oleh Narti adalah memeknya jadi penuh sesak oleh kemaluan Doni,
“Peeelllaaaan… Den,… peelllaaaaannn… kontolmu besar deeennn… uuuggghhhh… penuh memekku di buatnya…. ,”Narti mengerang kembali.
Doni mendiamkan sejenak kepala kontolnya yang sudah masuk dalam lubang senggama Narti, untuk memberi waktu agar lubang senggama Narti menjadi terbiasa dengan besar kemaluannya, dan….
Bbllleeeessssss…… bleeesssss….
Doni mulai mendorong kontolnya kembali dengan perlahan-lahan, batang kemaluannya mulai terbenam setengahnya di lubang senggama Narti,
“Aaaaggghhhh…. Den… kontolmu…beesssaaaarrr…. Oooooggghhh periiih.. sakit memekku…den… ccaaabuutt… den…. Saakiittt….,”rintih Narti yang merasakan kesakitan akibat lesakan batang kemaluan Doni yang besar.
“Hhhmmmpppp… bentarr… ttahan…Ti, nanti juga gak sakit,”sahut Doni tanpa mencabut kontolnya,
Dan, Bllleeeeessssss………
Dengan sekali hentak Doni menekan kontolnya dalam-dalam di lubang senggama Narti, terlihat batang kemaluan Doni terbenam seluruhnya di lubang vagina Narti, Doni merasakan nikmat yang sangat merasakan jepitan memek Narti yang sempit itu, Doni juga merasakan dinding vagina Narti berdenyut-denyut, Narti sendiri merasa kesakitan dengan hentakan Doni tersebut, tapi ia tidak dapat menghindar karena dengan posisi tubuhnya yang tertindih tubuh Doni, dan tubuhnya yang di peluk dengan erat oleh Doni terutama saat Doni menghujamkan kontoknya masuk dalam-dalam di lubang vaginanya,
“Ouugghhh… den… sakiiittt… den… ssaaaakiitt… cabut… kontolmu… den…,”Narti merintih, air matanya menitik menahan sakit.
“Tenang… nanti juga gak sakit lagi… percaya samaku..nanti malah kamu ketagihan sama kontolku ini,” Doni berkata sambil tersenyum.
Doni mulai menggerakkan pantatnya naik-turun dengan perlahan-lahan, kontolnya pun bergerak dengan perlahan-lahan di lubang senggama Narti yang masih dengan eratnya menjepit batang kemaluannya, Doni merasakan memek Narti lebih sempit daripada memeknya Tuti ataupun mamihnya,
“eeeghhhh… saakiiittt…. Den… pelaaaannn… den… pelaaann…,” Narti merintih merasakan sakit.
“Pelaaannn… den… pelaaaann…. Jangaaaannn… terlaalluuu… dalaammm.. den… aaaaghhh… saakiittt….,”kembali Narti merintih kesakitan saat Doni mendorong dalam-dalam kontolnya itu.
“Suddaaaahhh… den…. Aaagghhh….,”kembali Narti mengerang.
Donipun menghentikan sodokan-sodokan kontolnya di memek Narti, dan mulai asyik menciumi mulut Narti yang sedang mengerang dan merintih kesakitan itu, Nartipun gelagapan dengan serbuan Doni, sementara ia sedang menahan sakit di memeknya yang sedang di terobos kontolnya Doni yang besar, Donipun merubah maju-mundurnya menjadi gerakan memutar, sambil mulutnya asyik memagut bibir Narti, gerakan Doni ini tidak terlalu membuat sakit memek Narti, malahan memberikan sensasi nikmat untuk Narti, rintihan kesakitan Narti mulai berganti dengan desahan keenakan.
“ooouughhh…den… terus…den… terus…putar…eenaakkk…tidak sakiit..lagii oooogghhh den…aaahhh… enak..terusss..putar terus..,”desah Narti yang sudah tidak merasakan sakit di vaginanya.
Lama-lama gerakan berputar Doni tersebut mulai diselingi dengan tarikan dan tekanan, sambil memutar pantatnya Doni mulai menarik pantatnya keatas perlahan dan saat menekan pantatnya Donipun tidak menghentikan putaran pantatnya, Nartipun tidak menjerit kesakitan saat Doni melakukan hal tersebut, tapi malah mengerang keenakan.
“Aaaachhhh… den.. enakk… kontolmu enaakk… den..besar…memekku penuh dibuatnya… den… terus den…sodok kontolmu itu…,”erang Narti yang keenakan dengan aksi Doni.
“hhhmmmppp… ssshhh… memekmu juga enak, semppittt… ooohhh,”Donipun mengerang keenakan.
Saat sedang asyik-asyiknya Doni yang mulai menggenjot kontolnya itu di memek Narti, tubuh orang yang sedang menyaksikan pertunjukkan itupun mulai menghampiri tempat tidur Doni, rupanya Doni ataupun Narti lupa bahwa pintu mereka tidak tertutup, lalu orang tersebut mulai mengarahkan tangannya untuk mengelus biji peler Doni, yang bergoyang seiring dengan genjotan Doni,
“Eeehhhh….,”Doni kaget saat merasakan biji pelernya ada yang mengelus-ngelus.
“Hhmmmm… anak mamih mulai bermain di belakang mamih dan tidak mengajak mamihnya ini,”tegur Dewi.
Ternyata orang tersebut adalah Dewi, yang rupanya sudah tidak dapat menahan nafsu birahinya untuk ikutan bergabung dengan Doni dan Narti.
“Uuughhh…mamihhh…bikin kaget aja….,”kata Doni
Nartipun ikut kaget saat melihat kehadiran nyonya majikannya,
“eeehhh…bu… maaf…den… Dooniiii… aaaachh… yaaanggg….,”kata Narti setengah menjerit, perkataannya terputus saat Doni menekan kontolnya dalam-dalam.
“hhhmmmm… kamu mulai nakal juga, Ti…. Tapi gak apa-apa asalkan aku bisa ikutan gabung dengan kalian,”kata Dewi dengan genit sambil mulai menciumi anaknya yang sedang telungkup menggenjot Narti.
“Aaahh… ayo mih, kita muncrat bareng-bareng…aaaaggghhh…memekmu Ti, sempit sekali…oooogghhh…,”jawab Doni sambil asyik merasakan jepitan memek Narti.
“Iyaaa… Bu… oooghhh… den…aaaahhh…terusss…tekan kontolmu….tekaaan den yang daaaalllaammm…oooghh..,”Narti meng-iyakan perkataan Doni sambil tetap merasakan enaknya sodokan-sodokan batang kemaluan Doni di vaginanya.
Tanpa menunggu lama lagi, Dewi mulai beranjak kebelakang anaknya, iapun menelungkup di atas ranjang, tujuannya ialah biji peler anaknya yang bergoyang-goyang, sambil berpegangan di pantat Doni yang bergerak naik turun, Dewipun mulai sibuk menjilati biji peler Doni, lidahnya menyapu batang kemaluan Doni saat muncul keluar dari lubang vagina Narti, dan lidahnya menyapu biji peler Doni saat batang kemaluan Doni bersembunyi di lubang kemaluan Narti, aksi Dewi tersebut menambah sensasi luar biasa buat Doni.
“Ooughhh.. mih, enaaakk… mih… terus… jilat biji pelerku…mih… jilat kontolku… aaahhh mamih hebat…eenaakkk…,”erangan Doni terdengar.
Bukan hanya Doni yang merasakan enak akibat serangan Dewi tersebut, tapi Narti juga merasakan dampaknya karena sodokan-sodokan ****** Doni semakin dalam masuknya di lubang senggamanya,
“oooooghhh…den…eenaak…teruss…entot…memekku…den… ooogghhh…tekan terus…tekan kontolmu yang besar itu…den.. aahhhh..enak…,”Nartipun melenguh keenakan.
Dewipun semakin nakal dengan jilatannya, bukan hanya batang kemaluan Doni saja yang menjadi sasaran, tapi bibir vagina Nartipun menjadi sasaran jilatannya, saat Doni mulai meneroboskan kontolnya di vagina Narti, Dewipun menjilati pinggiran vagina Narti yang berdekatan dengan lubang anusnya, sementara dengan membasahi telunjuknya dengan air ludah, pinggiran lubang anus Nartipun mulai di elus-elusnya,
“OOOhhhhhhh…Bu, geeliiiii….aaaaahhh…eenaaakk….oooooohhhh…,”kembali Narti melenguh keenakan.
Nartipun mulai melingkarkan kakinya di pinggang Doni, sehingga membuat lubang anusnya lebih terbuka, bukan hanya itu lesakan kontolnya Donipun semakin dalam menerobos di lubang vaginanya, Dewi yang melihat posisi Narti itu mulai meneroboskan jari telunjuknya ke dalam lubang anus Narti dengan perlahan-lahan,
“Aaaaagghhhh…. Bu… saaakitt… jangan…bu… jangan…anusku….ooooogghh,” pekik Narti yang merasakan telunjuk Narti menerobos masuk lubang anusnya.
“Hhehehe…tenang, nanti juga kamu akan keenakan….ssslrrrppp…,”jawab Dewi sambil asyik dengan jilatan-jilatanya.
“Mih,,, tambah sempiittt.. memeknya… aaaahhhh…. Tambah,,enaak…. Terus mih.. tekan…,”Doni mengerang keenakan yang merasakan vagina Narti bertambah sempit akibat lesakan jari telunjuk mamihnya di lubang anus Narti.
Setelah masuk semua jari telunjuknya di dalam lubang anus Narti, Dewi mulai memutar-mutar jari telunjuknya sambil di maju mundurkan, perlahan tapi pasti jari telunjuk Dewi mulai leluasa keluar masuk di lubang anus Narti, Narti sendiri mulai merasakan rasa sakit yang tadi di alaminya mulai berganti dengan rasa nikmat yang hebat….
“OOoggghh, bu… betull..bu, bbetul… enaaakk… nikmaat…,”Narti mengerang keenakan merasakan sensasi yang luar biasa yang ia rasakan di kedua lubangnya.
Doni juga merasakan bertambahnya kenikmatan yang ia rasakan, ia merasakan jari mamihnya yang sedang keluar masuk di lubang anus Narti seolah-olah menggesek-gesek kontolnya, seolah-olah di antara kedua lubang itu tidak ada dinding pembatasnya.
“Oooghhh…. Mih.. terus kocok anusnya…mih… enak.. nikmat…,”Donipun mengerang keenakan.
Kaki Narti semakin kuat menjepit pinggang Doni, saat Doni melesakkan kontolnya Narti menekan pinggang Doni ke bawah sehingga kontolnya Doni melesak sedalam-dalamnya di lubang senggamanya, pelukan tangannya semakin erat memeluk Doni, nafasnya semakin memburu, rupanya Narti hampir mendekati ujung kenikmatannya, puncak kenikmatannya telah di ambang pintu, klimaks dari persetubuhannya dengan Doni akan ia rengkuh, tiba-tiba kakinya menekan kuat-kuat pinggang Doni dan pelukannya bertambah kencang, bibirnya mengatup di bahu Doni, nafasnya tersengal-sengal, tubuhnya mengejang….
Ssssssrrrrrr…. Sssssrrrrrrr… sssssrrrrrrr… sssrrrrrrr…..
Dengan sangat kuat vaginanya menyemburkan lahar kenikmatannya, Doni merasakan kontolnya menjadi hangat dengan semburan tersebut, Doni juga merasakan dinding vagina Narti berkedutan dengan kuat, seolah meremas-remas batang kontolnya.
“Aaaaaccchhhh… aku keluar….Den… aku keluar… enaaak… den… enak… kontolmu betul..betull.. enaaakk….aaaaccchhhh…,”Narti melenguh sejadi-jadinya merasakan letupan-letupan puncak birahinya.
Dewi yang tahu Narti sedang meraih puncak kenikmatannya menambahi dengan menekan-nekan dinding pembatas lubang anus dengan lubang vaginanya, sehingga menambah sensasi nikmat yang di alami oleh Narti, kejutan-kejutan dinding vagina Narti semakin menguat dengan gerakan Dewi tersebut, Doni yang merasakan memek Narti sedang berkedut-kedut itu menjadi meram-melek menikmati remasan-remasan memek Narti di batang kemaluannya.
Seiring dengan meredanya ledakan-ledakan birahi Narti, kaki Narti yang menjepit pinggang Doni mulai terlepas dan kedua kakinya melemas turun di samping paha Doni, pelukannya mengendur, merasakan ini semua Doni mulai memagut bibir Narti dengan lembut, pantatnya mulai bergerak dengan perlahan-lahan untuk memberikan tambahan kenikmatan yang baru saja Narti rengkuh.
Bonus: Sorry ga nyambung ama ceritanya












Dewi yang mendengar pekikan nikmat Narti, menekan kuat dinding pembatas lubang anus dan lubang vagina Narti, lalu di goyang-goyangkan jari telunjuknya sehingga Narti yang saat itu sedang mengalami orgasme, bertambah nikmat orgasmenya dengan tekanan telunjuk Dewi itu, tak lama kemudian Dewi mencabut telunjuknya,
“Sekarang giliran mamih yang merasakan kontolmu yang besar, Don,”desah Dewi.
Donipun segera mencabut kontolnya dari jepitan vagina Narti, kemudian ia merebahkan tubuhnya di ranjang, yang segera di susul oleh Dewi dengan berjongkok di atas tubuh Doni dengan posisi membelakangi Doni, batang kemaluan Doni yang tegang itu ia arahkan ke vaginanya,
Sleeepppp….. vaginanya menjepit kepala batang kemaluan Doni.
Tanpa menunda-nunda lagi Dewi mulai menekan pantatnya kebawah,
Bleesssss………. Vaginanya mulai diterobos masuk oleh kontolnya Doni.
Lagi-lagi Dewi menekan pantatnya kebawah,
Bleeeesssssss…… batang kemaluan Doni terbenam seluruhnya di dalam lubang kenikmatan Dewi.
“Ooooohhhh… Don, besar dan keras kontolmu ini, aaaaaaghhhhh… Don, sayang,”Dewi mengerang.
“Hhhmmmmppp…aaahhh… mih, memekmu enak…sempit mih,”Donipun mengerang merasakan jepitan vagina Dewi.
Dengan perlahan-lahan Dewi mulai memompa pantatnya naik turun di atas tubuh Doni, Narti melihat batang kemaluan Doni keluar masuk di dalam vagina nyonyanya ini, dan ia juga melihat kelentit nyonyanya itu keluar masuk seperti kepala kura-kura yang keluar masuk dari rumahnya, kelentit Dewi yang merah itu muncul tenggelam akibat gerakan naik turun Dewi, tanpa di suruh tangannya mulai mengelus-elus kelentit Dewi tersebut, akibatnya Dewi mengerang-erang keenakan atas perlakuan Narti di kelentitnya tersebut.
Bukan hanya tangannya yang beraksi tapi mulutnya pun ikut bermain, kedua payudara Dewi dihisap-hisap bergantian, kedua putingnyapun di jilati bergiliran, sementara Doni membantu gerakan mamihnya dengan menaik turunkan tubuh Dewi lewat pegangan di pinggang Dewi, gerakannya seirama dengan gerakan Dewi yang naik turun tersebut, Doni menekan pinggang Dewi ke bawah saat Dewi menurunkan pantatnya, dan ia membantu mengangkat pinggangnya saat Dewi menaikkan pantatnya.
Erangan kenikmatan Dewi semakin sering terdengar mendapat serangan-serangan Narti di kelentitnya dan di payudaranya, dan sodokan-sodokan batang kemaluan Doni di lubang senggamanya, mulutnya megap-megap seperti ikan yang kekurangan air, nafasnya tersengal-sengal seperti orang yang habis berlari, keringatnya mulai mengucur.
“Oooghhhh….eenaak…nikmat… terus …entot memekku Don, terusss…aachhh… enak.. pilin putar itilku… yach…terusss… enaak… terusss..,”Dewi mengerang kenikmatan.
“hisap..hisap…tetekku…teruss…remas…remass….ooohhh… enaak…geliii…nikmat Ti…Narti….terus…,”erangan Dewi terdengar kembali.
Dewi semakin merintih-rintih keenakan menikmati persetubuhannya, matanya meram-melek, Donipun menikmati pompaan mamihnya di batang kemaluannya, dari arah belakang Dewi ia melihat kontolnya seperti piston mesin yang bergerak, Doni melihat kontolnya timbul tenggelam dalam lubang memek Dewi, dan saat kontolnya berada diluar cengkraman vagina Dewi, Doni melihat batang kemaluannya tersebut mengkilat karena basah oleh cairan pelican Dewi dan dirinya yang semakin sering keluar, memek Dewipun semkain basah ia rasakan, kontolnya keluar masuk dengan lancarnya di lubang senggama Dewi tersebut.
“Mih…ooohhh…enaak…mih… terus mih pompa terus kontolku…aahhh… enaak.. terus mih tekan yang dalam…ayo mih goyang pantatnya….putar mih…iyaa… enak nikmat….mih,”Donipun mengerang kenikmatan.
“Iyyaa…Don, kontolmu juga enaak…aaachhh… sedaapp…. Nikmaat… gini..sayang.. diputar gini…ooohhhh…..kontolmu….,”Dewi merintih sambil mulai memutar pantatnya.
“Iyaaa..mmih, aaaachhh… enaaakk.. terusss mih…putaar…,”Doni kembali mengerang saat merasakan putaran-putaran memek Dewi di kontolnya.
Dewi memutar pantatnya searah jarum jam, kadang sambil memutar pantatnya itu Dewi menaikkan pantatnya keatas, Doni yang merasakan semakin merem melek, Doni merasakan kontolnya bagai diperas oleh lubang vagina Dewi apalagi saat Dewi sambil memutar lalu menaikkan pantatnya, Doni merasa kontolnya seolah di tarik oleh vagina Dewi, Dewipun merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa, saat memutar pantatnya itu ia merasakan kontolnya Doni seolah-olah mengaduk-aduk lubang senggamanya, dan saat ia menarik pantatnya keatas, Dewi merasakan kontolnya Doni menggesek dinding vaginanya dengan ketat.
“Oooohhh Don, enaak… kontolmuuuu.. aahhhh…. Uuuggghhhh… terussss… Ti, terusss…hisaap tetekku…itilku…ooohhh… terus goyang tanganmu….jangan.. berhenti…. Ooohhhhh… pilin…putar….aaaachhh…eeeenaaaakkk….,” Dewi merintih-rintih keenakan.
Narti semakin bertambah semangat menghisap tetek Dewi dan mengelus-elus serta memilin-milin kelentit Dewi,
“Hhhmmmppp…ssslrrrrppp….sssllllrrppp….hhmmmm…,”Nar ti menggumam sambil mulutnya asyik mengulum-ngulum tetek Dewi.
Narti yang mendengar rintihan-rintihan Dewi, nafsu birahinya kembali menggelora, dengan tangan kirinya ia mulai mengelus-elus itilnya sendiri, kadang-kadang jari tangannya menyelusup masuk ke dalam lubang senggamanya, vagina Nartipun kembali basah oleh cairan pelicinnya, elusan dan pilinan di itilnya sendiri seirama dengan elusan dan pilinannya di kelentit Dewi.
Erangan, rintihan dan desahan yang keluar dari mulut mereka bertiga semakin sering itu menambah suasana ruangan semakin ramai, suara decakan mulut Narti yang sibuk dengan kuluman di tetek Dewi, suara kecipak beradunya kemaluan Dewi yang semakin basah dengan kontolnya Doni, suara pantat Dewi yang basah oleh keringat beradu dengan selangkangan Doni yang juga sudah basah oleh keringat, suara-suara itu seolah berlomba-lomba saling bersahutan seolah-olah sedang konser paduan suara, merdu yang ditumbalkan oleh perpaduan suara-suara itu tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tapi dapat dirasakan oleh mereka yang sedang bersetubuh itu.
Gerakan naik-turun dan memutar-mutar Dewi semakin liar, Donipun mulai ikut bergerak seirama dengan gerakan Dewi, Doni menekan pantatnya keatas saat Dewi menurunkan pantatnya, sehingga kontolnya masuk kerelung paling dalam di vagina Dewi, kepala kontolnya menyentak keras dinding rahim Dewi, sehingga setiap kali kepala kontolnya itu bersentuhan dengan dinding rahim Dewi, Dewipun melenguh dengan keras.
“Uuuuggghhhh…. Don, gilaaa…enaaak… teruss. Sayaaang… dorong keatas.. kontolmuu… aaacchhh… yang daalam saayaaang… entotku…sodok…yang dalam aaaacchhh… Don,”lenguh Dewi.
Sementara itu tangan Narti dengan cepat menggesek-gesek itilnya Dewi, terlihat itilnya Dewi bertambah merah akibat gesekan-gesekan tangan Narti, bukan hanya itilnya Dewi yang digesek dengan cepat tapi itilnyapun ia gesek dengan cepat, Tak lama berselang Narti menghentikan aksinya, ia kemudian beranjak kearah kepala Doni, disodorkannya lubang vaginanya ke wajah Doni, Doni yang mengerti maksud Narti segera melahap vagina yang ada dihadapannya itu, kemudian dengan kuat Doni menghisap kelentit Narti, membuat Narti mengejang, tubuhnya melenting kebelakang, punggungnya bersentuhan dengan punggung Dewi, Dewi yang merasakan punggung Narti menempel dipunggungnya, mulai memiringkan tubuhnya sambil tetap dengan goyangan-goyangan pantatnya, dan mulai berciuman dengan Narti yang juga mulai memiringkan tubuhnya, merekapun berpagutan dengan penuh nafsu, lidah mereka menari-nari, kadang diluar mulut mereka berdua, kadang didalam rongga mulut mereka bergantian.
Satu tangan mereka menahan bobot tubuh mereka, tangan yang satunya sibuk meremas-remas payudara lawan mereka, desahan-desahanpun mulai meluncur kembali dari mulut mereka berdua, sementara Dewi dan narti asyik saling menyerang, Donipun semakin asyik menghisap-hisap kelentit Narti, sementara tangannya masih menahan bobot tubuh Dewi, karena saat ini Dewi sedang asyik bercumbu dengan Narti, Donipun tidak tinggal diam karena mamihnya tidak bergerak naik-turun, ia yang aktif sekarang dengan semangat 45 Doni menyodok-nyodokkan kontolnya dilubang senggama Dewi, sementara mulutnya sibuk dengan kelentit Narti.
Dewi & Narti semakin melenguh dengan aksi Doni, ciuman merekapun semakin menggila seiring dengan gejolak birahi mereka yang semakin meninggi, tubuh mereka kadang mengelinjang, mengejut-ngejut, menikmati permainan Doni di lubang senggama mereka, suara ah-uh-oh mereka semakin terdengar bercampur dengar suara decakan mulut mereka yang sedang asyik berciuman ditambah dengan suara sruputan Doni di kemaluan Narti serta suara kecipak beradunya batang kemaluan Doni dan lubang senggama Dewi.
“Ooooghhhhh…Don, terus… teruss.s…. yang… daaalaammm… yang kuaat… ssaayaang… buat mamihmu puaaaaasss… aaccchhh…hhhmmmmppp…ssslrrrppp hhhhmmmmppp…. Ssssllrrrppp…,”Dewi merintih keenakan.
“Accchhh…Den, hisaaaappp.. itiiiilkuuuu….aaacchhh… yang kuat..Den,, oooocchh enaaakkk Den, eenaaakk…hhhmmmppp…sssssslrrrpp..hhhmmmppp…slrrrpp pp,” Nartipun merintih-rintih.
“Hhmmpppp…sssslrrrppp…sssssllllrpppp…hhhmmmppp…,”D oni menggumam tidak jelas karena mulutnya asyik dengan itilnya Narti.
Pada saat yang hampir bersamaan Dewi dan Narti memekik merasakan puncak pendakian kenikmatan mereka telah berhasil mereka rengkuh, tubuh keduanya mengejang, lubang vagina mereka berkedut meletupkan lahar kenikmatan mereka, cairan kenikmatan mereka membasahi batang kemaluan dan mulut Doni,
Ssssrrrrrr…. Sssrrrrrr… sssrrrrr… sssrrrrr… ssrrrr….. sssrrrrr…
“Oooaaahhhhh…..Don, mamih keluaaarr….saaayaaaangg… aaachhh… enak.. nikmat… kontolmu…oocchhhh… Donn…,”Dewi merintih panjang.
“Deeenn, ooocchhh…aaakuuu jugaaa..keluaar…. Den…aaachhh… hisaaappp… itilku…ooochhh… Den, enaaakkk…,”Nartipun merintih panjang.
Doni semakin menggila menyodok-nyodokkan kontolnya di lubang senggama Dewi dan semakin kuat menghisap itilnya Narti saat mendengar pekikan nikmat mereka berdua, sementara ia sendiri juga merasakan hal yang sama, desakan air maninya sudah menggelegak di ujung kepala kontolnya, dan
Ccrreeeetttt… ccreeeetttt…creeeetttt… kontolnya Doni menyemburkan air mani di lubang senggama Dewi.
“hhhmmmmmppppp… uuuugghhhh….sssllrrrrpppp…..uuughhhh… ssllrrrppppp hhhmmmppp…..,”gumam Doni.
Tubuh Donipun mengejang, pantatnya diangkat tinggi-tinggi, kontolnya melesak lebih dalam saat menyemburkan airmaninya, dinding rahim Dewi diterjang dengan derasnya oleh sperma Doni, Dewi merasakan hangat di dinding rahimnya, lubang senggama Dewi berkedut-kedut mengeluarkan cairan kenikmatannya, Dewi merasakan batang kemaluan Doni berkedut dengan kuatnya saat menyemburkan cairan spermanya, Doni juga merasakan kedutan kuat dinding vagina Dewi pada batang kemaluannya saat memek Dewi melepaskan cairan kenikmatannya, sementara mulut Doni basah oleh semburan memek Narti yang menyemburkan cairan kenikmatannya, tubuh Narti juga mengejang saat melepaskan cairan kenikmatan tersebut, kedua tangannya menekan kepala Doni keatas, sementara pantatnya yang mengejut-ngejut di tekankan kebawah, membuat Doni gelagapan.
Tak lama berselang tubuh Narti dan Dewi ambruk diatas ranjang tersebut, nafas mereka masih memburu, mereka bertiga telah berhasil mencapai puncak pendakian kenikmatannya, sambil merebahkan tubuh mereka diatas tubuh Doni, Narti dan Dewi secara bersamaan mengecup pipi kiri dan kanan Doni, dari mulut mereka tersungging senyuman kepuasan, begitu pula dengan Doni yang berhasil meraih kepuasannya di mulutnya tersungging senyuman, dalam hati Doni membatin dua sudah yang berhasil aku entot, tinggal satu lagi pembantuku yang belum merasai kontolku ini.
Masih dengan tersenyum Doni mulai memikirkan cara untuk dapat menyetubuhi Ani pembantunya yang masih perawan itu, dalam bayangan Doni alangkah enaknya dapat mengentot perawan, sementara Narti membatin ia akan siap jika Doni ingin menggaulinya lagi, ia akan siap setiap saat untuk dapat menikmati keperkasaan Doni.
Bonus: Sorry picnya ga nyambung ama cerita






“Sekarang giliran mamih yang merasakan kontolmu yang besar, Don,”desah Dewi.
Donipun segera mencabut kontolnya dari jepitan vagina Narti, kemudian ia merebahkan tubuhnya di ranjang, yang segera di susul oleh Dewi dengan berjongkok di atas tubuh Doni dengan posisi membelakangi Doni, batang kemaluan Doni yang tegang itu ia arahkan ke vaginanya,
Sleeepppp….. vaginanya menjepit kepala batang kemaluan Doni.
Tanpa menunda-nunda lagi Dewi mulai menekan pantatnya kebawah,
Bleesssss………. Vaginanya mulai diterobos masuk oleh kontolnya Doni.
Lagi-lagi Dewi menekan pantatnya kebawah,
Bleeeesssssss…… batang kemaluan Doni terbenam seluruhnya di dalam lubang kenikmatan Dewi.
“Ooooohhhh… Don, besar dan keras kontolmu ini, aaaaaaghhhhh… Don, sayang,”Dewi mengerang.
“Hhhmmmmppp…aaahhh… mih, memekmu enak…sempit mih,”Donipun mengerang merasakan jepitan vagina Dewi.
Dengan perlahan-lahan Dewi mulai memompa pantatnya naik turun di atas tubuh Doni, Narti melihat batang kemaluan Doni keluar masuk di dalam vagina nyonyanya ini, dan ia juga melihat kelentit nyonyanya itu keluar masuk seperti kepala kura-kura yang keluar masuk dari rumahnya, kelentit Dewi yang merah itu muncul tenggelam akibat gerakan naik turun Dewi, tanpa di suruh tangannya mulai mengelus-elus kelentit Dewi tersebut, akibatnya Dewi mengerang-erang keenakan atas perlakuan Narti di kelentitnya tersebut.
Bukan hanya tangannya yang beraksi tapi mulutnya pun ikut bermain, kedua payudara Dewi dihisap-hisap bergantian, kedua putingnyapun di jilati bergiliran, sementara Doni membantu gerakan mamihnya dengan menaik turunkan tubuh Dewi lewat pegangan di pinggang Dewi, gerakannya seirama dengan gerakan Dewi yang naik turun tersebut, Doni menekan pinggang Dewi ke bawah saat Dewi menurunkan pantatnya, dan ia membantu mengangkat pinggangnya saat Dewi menaikkan pantatnya.
Erangan kenikmatan Dewi semakin sering terdengar mendapat serangan-serangan Narti di kelentitnya dan di payudaranya, dan sodokan-sodokan batang kemaluan Doni di lubang senggamanya, mulutnya megap-megap seperti ikan yang kekurangan air, nafasnya tersengal-sengal seperti orang yang habis berlari, keringatnya mulai mengucur.
“Oooghhhh….eenaak…nikmat… terus …entot memekku Don, terusss…aachhh… enak.. pilin putar itilku… yach…terusss… enaak… terusss..,”Dewi mengerang kenikmatan.
“hisap..hisap…tetekku…teruss…remas…remass….ooohhh… enaak…geliii…nikmat Ti…Narti….terus…,”erangan Dewi terdengar kembali.
Dewi semakin merintih-rintih keenakan menikmati persetubuhannya, matanya meram-melek, Donipun menikmati pompaan mamihnya di batang kemaluannya, dari arah belakang Dewi ia melihat kontolnya seperti piston mesin yang bergerak, Doni melihat kontolnya timbul tenggelam dalam lubang memek Dewi, dan saat kontolnya berada diluar cengkraman vagina Dewi, Doni melihat batang kemaluannya tersebut mengkilat karena basah oleh cairan pelican Dewi dan dirinya yang semakin sering keluar, memek Dewipun semkain basah ia rasakan, kontolnya keluar masuk dengan lancarnya di lubang senggama Dewi tersebut.
“Mih…ooohhh…enaak…mih… terus mih pompa terus kontolku…aahhh… enaak.. terus mih tekan yang dalam…ayo mih goyang pantatnya….putar mih…iyaa… enak nikmat….mih,”Donipun mengerang kenikmatan.
“Iyyaa…Don, kontolmu juga enaak…aaachhh… sedaapp…. Nikmaat… gini..sayang.. diputar gini…ooohhhh…..kontolmu….,”Dewi merintih sambil mulai memutar pantatnya.
“Iyaaa..mmih, aaaachhh… enaaakk.. terusss mih…putaar…,”Doni kembali mengerang saat merasakan putaran-putaran memek Dewi di kontolnya.
Dewi memutar pantatnya searah jarum jam, kadang sambil memutar pantatnya itu Dewi menaikkan pantatnya keatas, Doni yang merasakan semakin merem melek, Doni merasakan kontolnya bagai diperas oleh lubang vagina Dewi apalagi saat Dewi sambil memutar lalu menaikkan pantatnya, Doni merasa kontolnya seolah di tarik oleh vagina Dewi, Dewipun merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa, saat memutar pantatnya itu ia merasakan kontolnya Doni seolah-olah mengaduk-aduk lubang senggamanya, dan saat ia menarik pantatnya keatas, Dewi merasakan kontolnya Doni menggesek dinding vaginanya dengan ketat.
“Oooohhh Don, enaak… kontolmuuuu.. aahhhh…. Uuuggghhhh… terussss… Ti, terusss…hisaap tetekku…itilku…ooohhh… terus goyang tanganmu….jangan.. berhenti…. Ooohhhhh… pilin…putar….aaaachhh…eeeenaaaakkk….,” Dewi merintih-rintih keenakan.
Narti semakin bertambah semangat menghisap tetek Dewi dan mengelus-elus serta memilin-milin kelentit Dewi,
“Hhhmmmppp…ssslrrrrppp….sssllllrrppp….hhmmmm…,”Nar ti menggumam sambil mulutnya asyik mengulum-ngulum tetek Dewi.
Narti yang mendengar rintihan-rintihan Dewi, nafsu birahinya kembali menggelora, dengan tangan kirinya ia mulai mengelus-elus itilnya sendiri, kadang-kadang jari tangannya menyelusup masuk ke dalam lubang senggamanya, vagina Nartipun kembali basah oleh cairan pelicinnya, elusan dan pilinan di itilnya sendiri seirama dengan elusan dan pilinannya di kelentit Dewi.
Erangan, rintihan dan desahan yang keluar dari mulut mereka bertiga semakin sering itu menambah suasana ruangan semakin ramai, suara decakan mulut Narti yang sibuk dengan kuluman di tetek Dewi, suara kecipak beradunya kemaluan Dewi yang semakin basah dengan kontolnya Doni, suara pantat Dewi yang basah oleh keringat beradu dengan selangkangan Doni yang juga sudah basah oleh keringat, suara-suara itu seolah berlomba-lomba saling bersahutan seolah-olah sedang konser paduan suara, merdu yang ditumbalkan oleh perpaduan suara-suara itu tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tapi dapat dirasakan oleh mereka yang sedang bersetubuh itu.
Gerakan naik-turun dan memutar-mutar Dewi semakin liar, Donipun mulai ikut bergerak seirama dengan gerakan Dewi, Doni menekan pantatnya keatas saat Dewi menurunkan pantatnya, sehingga kontolnya masuk kerelung paling dalam di vagina Dewi, kepala kontolnya menyentak keras dinding rahim Dewi, sehingga setiap kali kepala kontolnya itu bersentuhan dengan dinding rahim Dewi, Dewipun melenguh dengan keras.
“Uuuuggghhhh…. Don, gilaaa…enaaak… teruss. Sayaaang… dorong keatas.. kontolmuu… aaacchhh… yang daalam saayaaang… entotku…sodok…yang dalam aaaacchhh… Don,”lenguh Dewi.
Sementara itu tangan Narti dengan cepat menggesek-gesek itilnya Dewi, terlihat itilnya Dewi bertambah merah akibat gesekan-gesekan tangan Narti, bukan hanya itilnya Dewi yang digesek dengan cepat tapi itilnyapun ia gesek dengan cepat, Tak lama berselang Narti menghentikan aksinya, ia kemudian beranjak kearah kepala Doni, disodorkannya lubang vaginanya ke wajah Doni, Doni yang mengerti maksud Narti segera melahap vagina yang ada dihadapannya itu, kemudian dengan kuat Doni menghisap kelentit Narti, membuat Narti mengejang, tubuhnya melenting kebelakang, punggungnya bersentuhan dengan punggung Dewi, Dewi yang merasakan punggung Narti menempel dipunggungnya, mulai memiringkan tubuhnya sambil tetap dengan goyangan-goyangan pantatnya, dan mulai berciuman dengan Narti yang juga mulai memiringkan tubuhnya, merekapun berpagutan dengan penuh nafsu, lidah mereka menari-nari, kadang diluar mulut mereka berdua, kadang didalam rongga mulut mereka bergantian.
Satu tangan mereka menahan bobot tubuh mereka, tangan yang satunya sibuk meremas-remas payudara lawan mereka, desahan-desahanpun mulai meluncur kembali dari mulut mereka berdua, sementara Dewi dan narti asyik saling menyerang, Donipun semakin asyik menghisap-hisap kelentit Narti, sementara tangannya masih menahan bobot tubuh Dewi, karena saat ini Dewi sedang asyik bercumbu dengan Narti, Donipun tidak tinggal diam karena mamihnya tidak bergerak naik-turun, ia yang aktif sekarang dengan semangat 45 Doni menyodok-nyodokkan kontolnya dilubang senggama Dewi, sementara mulutnya sibuk dengan kelentit Narti.
Dewi & Narti semakin melenguh dengan aksi Doni, ciuman merekapun semakin menggila seiring dengan gejolak birahi mereka yang semakin meninggi, tubuh mereka kadang mengelinjang, mengejut-ngejut, menikmati permainan Doni di lubang senggama mereka, suara ah-uh-oh mereka semakin terdengar bercampur dengar suara decakan mulut mereka yang sedang asyik berciuman ditambah dengan suara sruputan Doni di kemaluan Narti serta suara kecipak beradunya batang kemaluan Doni dan lubang senggama Dewi.
“Ooooghhhhh…Don, terus… teruss.s…. yang… daaalaammm… yang kuaat… ssaayaang… buat mamihmu puaaaaasss… aaccchhh…hhhmmmmppp…ssslrrrppp hhhhmmmmppp…. Ssssllrrrppp…,”Dewi merintih keenakan.
“Accchhh…Den, hisaaaappp.. itiiiilkuuuu….aaacchhh… yang kuat..Den,, oooocchh enaaakkk Den, eenaaakk…hhhmmmppp…sssssslrrrpp..hhhmmmppp…slrrrpp pp,” Nartipun merintih-rintih.
“Hhmmpppp…sssslrrrppp…sssssllllrpppp…hhhmmmppp…,”D oni menggumam tidak jelas karena mulutnya asyik dengan itilnya Narti.
Pada saat yang hampir bersamaan Dewi dan Narti memekik merasakan puncak pendakian kenikmatan mereka telah berhasil mereka rengkuh, tubuh keduanya mengejang, lubang vagina mereka berkedut meletupkan lahar kenikmatan mereka, cairan kenikmatan mereka membasahi batang kemaluan dan mulut Doni,
Ssssrrrrrr…. Sssrrrrrr… sssrrrrr… sssrrrrr… ssrrrr….. sssrrrrr…
“Oooaaahhhhh…..Don, mamih keluaaarr….saaayaaaangg… aaachhh… enak.. nikmat… kontolmu…oocchhhh… Donn…,”Dewi merintih panjang.
“Deeenn, ooocchhh…aaakuuu jugaaa..keluaar…. Den…aaachhh… hisaaappp… itilku…ooochhh… Den, enaaakkk…,”Nartipun merintih panjang.
Doni semakin menggila menyodok-nyodokkan kontolnya di lubang senggama Dewi dan semakin kuat menghisap itilnya Narti saat mendengar pekikan nikmat mereka berdua, sementara ia sendiri juga merasakan hal yang sama, desakan air maninya sudah menggelegak di ujung kepala kontolnya, dan
Ccrreeeetttt… ccreeeetttt…creeeetttt… kontolnya Doni menyemburkan air mani di lubang senggama Dewi.
“hhhmmmmmppppp… uuuugghhhh….sssllrrrrpppp…..uuughhhh… ssllrrrppppp hhhmmmppp…..,”gumam Doni.
Tubuh Donipun mengejang, pantatnya diangkat tinggi-tinggi, kontolnya melesak lebih dalam saat menyemburkan airmaninya, dinding rahim Dewi diterjang dengan derasnya oleh sperma Doni, Dewi merasakan hangat di dinding rahimnya, lubang senggama Dewi berkedut-kedut mengeluarkan cairan kenikmatannya, Dewi merasakan batang kemaluan Doni berkedut dengan kuatnya saat menyemburkan cairan spermanya, Doni juga merasakan kedutan kuat dinding vagina Dewi pada batang kemaluannya saat memek Dewi melepaskan cairan kenikmatannya, sementara mulut Doni basah oleh semburan memek Narti yang menyemburkan cairan kenikmatannya, tubuh Narti juga mengejang saat melepaskan cairan kenikmatan tersebut, kedua tangannya menekan kepala Doni keatas, sementara pantatnya yang mengejut-ngejut di tekankan kebawah, membuat Doni gelagapan.
Tak lama berselang tubuh Narti dan Dewi ambruk diatas ranjang tersebut, nafas mereka masih memburu, mereka bertiga telah berhasil mencapai puncak pendakian kenikmatannya, sambil merebahkan tubuh mereka diatas tubuh Doni, Narti dan Dewi secara bersamaan mengecup pipi kiri dan kanan Doni, dari mulut mereka tersungging senyuman kepuasan, begitu pula dengan Doni yang berhasil meraih kepuasannya di mulutnya tersungging senyuman, dalam hati Doni membatin dua sudah yang berhasil aku entot, tinggal satu lagi pembantuku yang belum merasai kontolku ini.
Masih dengan tersenyum Doni mulai memikirkan cara untuk dapat menyetubuhi Ani pembantunya yang masih perawan itu, dalam bayangan Doni alangkah enaknya dapat mengentot perawan, sementara Narti membatin ia akan siap jika Doni ingin menggaulinya lagi, ia akan siap setiap saat untuk dapat menikmati keperkasaan Doni.
Bonus: Sorry picnya ga nyambung ama cerita











0 komentar:
Poskan Komentar